Republika(08/06/2011). Wabah Bakteri E Coli atau Escherichia coli sungguh membuat kalut negara-negara di Eropa. Misteri Asal-usul penyebaran bakteri yang telah menelan 23 korban jiwa ini belum juga terpecahkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan penyakit akibat bakteri E Coli (Escherichia coli) yang melanda Jerman dan 11 negara lainnya di wilayah Eropa hingga kini telah mencapai 2.260 kasus dan mengakibatkan kematian 22 orang. Hingga 5 Juni 2011, Jerman telah melaporkan timbulnya 1.536 kasus EHEC tanpa HUS –yaitu peningkatan sebanyak 108 kasus dari satu hari sebelumnya– dan mengakibatkan kematian terhadap enam orang.

Secara keseluruhan, 31 kasus HUS –satu orang meninggal– dan 71 kasus EHEC dilaporkan terjadi di 11 negara Eropa, yaitu Austria, Ceko, Denmark, Perancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Spanyol, Swedia, Swiss dan Kerajaan Inggris. Tidak hanya di Eropa, penyakit E Coli juga terjadi di Amerika Serikat.

WHO menjelaskan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS sebelumnya telah melaporkan terjadinya dua kasus HUS, yang keduanya berkaitan dengan penyakit E. coli di Eropa dan terbawa melalui perjalanan. Seperti yang diungkapkan WHO pekan lalu, E Coli timbul akibat adanya ketegangan yang jarang ditemukan pada bakteri.

EHEC merupakan ketegangan bakteri E Coli yang sangat parah, biasanya ditemukan pada usus binatang, terutama binatang-binatang menyusui/pemamah biak. Menurut WHO, EHEC memproduksi racun yang dikenal sebagai “Shigatoxin” atau “verotoxin”, yang bisa merusak sel-sel darah serta ginjal.

Penyakit EHEC dapat dikenali melalui beberapa gejala, yaitu orang yang bersangkutan mengalami kram perut dan diare, yang mungkin juga disertai pendarahan. Gejala EHEC dapat juga berupa demam dan muntah-muntah, kata WHO. Kebanyakan pasien yang terkena EHEC akan berangsur sembuh dalam waktu 10 hari. Dalam sejumlah kecil kasus, terutama pada anak-anak dan orang tua, penyakit tersebut dapat menjadi penyakit yang mengancam nyawa, seperti HUS yang bisa menyebabkan gagal ginjal akut, anemia haemolytic dan rendahnya tingkat trombosit.

Sementara itu, di Indonesia Kementerian Kesehatan telah memberikan panduan untuk mencegah EHEC dan HUS, yaitu dengan mengimbau masyarakat menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS )seperti mencuci tangan pakai sabun setelah buang air besar (BAB) sebelum makan. Mereka yang mengalami diare disertai pendarahan ataupun menderita sakit setelah bepergian dari Jerman dan kontak dengan penderita, diimbau segera berkonsultasi kepada dokter atau petugas kesehatan. Kementerian Kesehatan juga mengingatkan lima kunci untuk keamanan pangan seperti yang dianjurkan WHO, yaitu jaga kebersihan; pisahkan bahan mentah dengan makanan matang; masak makanan sampai matang; jaga makanan pada suhu aman; dan gunakan air bersih untuk mencuci bahan pangan. Sehingga dapat terhindar dari wabah yang disebabkan oleh bakteri E Coli.

Satu Komentar

  1. 2-26-2012

    Sangat mengerikan,, semoga saja wabah dari bakteri ini tidak nelanda negeti kita seperti virus SARS beberapa tahun lalu

Komentar Seputar Wabah Bakteri E Coli yang Membuat Kalut Eropa

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Kesehatan Lainnya:close