Liputan Tabloid Gaya Hidup Sehat (GHS) Februari 2010,
Jerawat di wajah pasti meresahkan si empunya, apalagi jika tumbuh di vagina atau Human Papiloma Virus. Pastilah lebih menyusahkan. Itulah yang dirasakan Ratna (bukan nama sebenarnya), janda berusia 37 tahun.

Bulan November 2009 ia menemukan bintil-bintil seukuran jerawat di lubang vaginanya. Sempat mengira bintil itu hanya akibat iritasi, Ratna tak mau mengambil risiko.

“Saya ini tipe orang yang langsung ke dokter kalau ada gangguan kesehatan, sekecil apapun masalahnya. Orang lain mungkin menganggap jerawat di vagina adalah hal sepele, bagi saya tidak,” ungkat Ratna.

Pada pemeriksaan pertama itu Ratna tidak mendapat keterangan apapun mengenai penyakitnya. Dokter hanya menyarankan agar Ratna menjalani biopsi lanjutan untuk mengetahui apa sebenarnya bintil tersebut. Ia diminta menunggu hasilnya seminggu.

“Tapi, saat itu juga saya mendapat tindakan laser untuk menghilangkan bintil tersebut,” katanya.
Setelah seminggu, hasil biopsi menyatakan bahwa Ratna mengalami kutil kelamin atau kondolima akuminata. Kutil itu disebabkan Human Papiloma Virus (HPV), yang didapatkan dari hubungan seksual. Human papiloma virus ini bisa menular lewat gesekan kulit yang tidak terlindung oleh kondom.

Saat itu Ratna masih tenang karena merasa sudah mengatasinya dengan laser. Ternyata sebulan kemudian kutil itu muncul lagi. Di tempat yang sama pula! Ia pun mendatangi dokter dan mendapat jawaban yang membuatnya syok.

“Kata dokter, penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Kalaupun kutilnya hilang, dia bisa kembali sewaktu-waktu ketika daya tahan tubuh menurun. Virusnya bersembunyi di dalam tubuh, sembari menunggu waktu untuk kambuh lagi. Parahnya, penyakit ini akrab dengan pelacur,” ujarnya jengkel.

Tidak puas dengan jawaban satu dokter, ia mencari opini dari tiga dokter dan menjelajah informasi di internet. Hasilnya sama saja. Semua mengatakan virus ini tidak bisa dihilangkan dari tubuhnya.

“Malah beberapa sumber mengatakan kutil ini bisa berubah berubah jadi kanker mulut rahim jika tidak ditangani dengan serius. Tambah panic saya,” lanjutnya.

Kenyataannya, kutil itu tumbuh kembali. Sudah tiga bulan berturut-turut Ratna mendapat tindakan laser.
“Capek bolak-balik ke dokter untuk dilaser. Mahal pula biayanya. Saya stress dan tersadar bahwa hanya hubungan seksual yang bisa menyebabkan hal seperti ini!” katanya.

RAMUAN HERBAL DAN HEWANI

Ratna mengakui, setelah kematian suaminya, ia pernah menjalin hubungan kasih dengan seorang pria. “Saya hanya beberapa kali berhubungan seks dengan pacar. Dia baik dan santun. Ternyata saya tertular dari dia. Akhirnya saya sadar, kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Bisa saja pria itu sudah sering main perempuan dan tertular human papiloma virus. Pria ‘kan hanya pembawa saja, yang kena pihak wanita,” ujar Ratna.

Menyadari human papiloma Virus ini tidak bisa dimusnahkan, Ratna stress. Ia pun menyimpulkan yang harus dimusnahkan bukan kutilnya, melainkan virusnya. Jadilah setiap hari ia mencari informasi mengenai cara membasmi virus tersebut. Bahkan, ia sempat menelantarkan pekerjaannya demi mencari informasi.

Beban pikiran Ratna pun bertambah karena ia hendak menikah lagi tahun 2010 ini dengan pria lain. “Virus ini harus hilang dengan segera. Itu yang bikin saya semakin stress. Karena penyakit ini banyak dialami pelacur, saya tidak bisa menceritakan hal ini kepada calon suami. Saya tidak tahu bagaimana nanti reaksi dia,” imbuh Ratna sedih.

Mengandalkan informasi dari internet, Ratna mendapat petunjuk untuk menghilangkan human papiloma virus. “Saat itu saya melihat situs Ibu Djamilah di internet. Dia bisa menangani virus seperti hepatitis dan HIV/AIDS. human papiloma virus ‘kan virus juga, jadi saya berpikir harusnya human papiloma virus bisa ditangani juga,” pikirnya.

Kemudian datanglah Ratna ke klinik itu dan mendapat ramuan herbal dan hewani. “Saat ini saya sudah menghabiskan satu setengah paket, dan ternyata kutil-kutil itu sudah mengecil. Satu paket untuk seminggu. Nanti setelah habis tiga paket saya akan periksa laboratorium lagi untuk memastikan bahwa virus ini sudah benar-benar hilang,” kata Ratna yang setiap hari memeriksa dengan cermin kelima kutil di vaginanya.

Dari pengalaman pahit ini Ratna sungguh belajar, dan bertekad lebih berhati-hati mengawasi kedua anaknya. “Jangan sampai sembarang berhubungan seksual. Kalaupun menggunakan kondom, tidak banyak membantu. Pokoknya say no to free sex,” sebutnya.

Ratna bahkan bertekad membentuk komunitas antiseks bebas. “Seks bebas itu berbahaya dan banyak merugikan wanita. Kalau sampai kena kutil kelamin (human papiloma virus / HPV), bukan hanya biayanya yang mahal, efek psikologisnya juga cukup berat. Percaya deh,” katanya lagi. Michael

Liputan Tabloid Gaya Hidup Sehat (GHS) Februari 2010

Liputan Tabloid Gaya Hidup Sehat (GHS) Februari 2010

Komentar Seputar Tertular Pacar yang Santun – Sebuah Kisah Pasien Human Papiloma Virus

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Artikel Kesehatan Lainnya:close