MENGOBATI SI LEMAH UNTUK MEMBANGUN SEKOLAH

Majalah Bintang, Juni 1992.

Suatu saat, Drs. H.C. Nadjmuddin HS. yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen di Unisba (Universitas Islam Bandung) ini, terserang maag dan liver kronis. Berbagai macam obat, juga perawatan dari dokter dia tempuh. Tapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Sampai akhirnya dia ingat sebuah buku (tentang pengobatan tradisional), yang sempat dia baca ketika dia kuliah di Universitas Madinah, Mekah. Lalu resep ramuan yang ditulis di buku itu, dia ramu dan dia coba sendiri. Dan ternyata hasilnya sungguh menggembirakan. Dalam waktu relatif singkat, sakit maag dan levernya sembuh total. Istrinya yang waktu itu kebetulan menderita tumor, juga mencoba resep yang diramunya. Hasilnya juga sangat memuaskan. Dari sinilah Drs. H.C. Nadjmuddin dan Ny. Djamilah mulai yakin, bahwa resep ramuan tradisional yang ia racik berdasarkan petunjuk di buku itu, terbukti mujarab. Lalu bila ada kerabat, atau teman yang kebetulan menderita suatu penyakit, pasangan suami-istri ini pun lantas dimitai tolong. Informasi dari mulut ke mulut inilah, yang belakangan membuat pasangan ini sering didatangi orang-orang dari berbagai daerah, untuk meminta pertolongannya. Meski mereka sendiri tidak membuka praktek secara resmi, dengan memasang papan nama seperti layaknya dilakukan oleh orang yang mempunyai usaha pengobatan tradisional, tak urung puluhan orang setiap harinya mendatangi rumahnya, di Gg. Pesantren No. 143/88, Jl. Pagarsih Bandung.

Dari pengalamannya menolong banyak orang, Nadjmuddin yakin bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti maag, tumor, kanker, amandel, lemah syahwat/impoten, lever, hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, diabetes, reumatik, keputihan, ginjal batu, ambeyen, prostat, paru-paru, juga HIV AIDS yang sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Dalam melayani pasiennya, Drs. H.C. Nadjmuddin HS melakukan diagnosa penyakit pasiennya dengan melakukan pijat syaraf, juga dengan bantuan stetostok, seperti layaknya dokter. Setelah dia yakin penyakit yang diderita si pasien, dia lantas menuliskan obatnya. Sang istri yang kemudian memberi dosis obat pada si pasien, sambil memberi berbagai macam petunjuk.
Ketika bertandang ke rumahnya, Bintang sempat bertemu dengan beberapa pasien yang sudah berhasil disembuhkan penyakitnya. Seperti Ibu Rusmiyati, warga Jl. Lingkar Selatan, Bandung, yang mengaku menderita maag selama 7 tahun.

Setelah hampir putus asa karena berobat ke sana ke mari tidak membawa hasil, akhirnya seorang kenalannya menyarankan agar dia berobat pada pasangan ini. Dan hasilnya, “maag saya sekarang sudah sembuh total,” ujarnya sungguh-sungguh. Begitu juga dengan Drs. Djohan Maknun, seorang guru SMA di Bandung. Benjolan (tumor) di tangannya, mula-mula di operasi di rumah sakit. Tapi tak beberapa lama kemudian, benjolan itu muncul lagi. Berkat obat tradisional ramuan pasangan ini tumor di tangannya tidak pernah kambuh lagi.
Malah ketika Bintang tengah wawancara, tiba-tiba muncul seorang ibu muda, yang memberitahukan pada Ny. Djamilah, bahwa batu ginjalnya sudah keluar. Ibu ini datang dengan membawa batu hitam sebesar biji padi yang ditaruh di dalam botol. “Pada prinsipnya, kami yakin semua penyakit bisa disembuhkan. Kalau ada penyakit tidak bisa disembuhkan, berarti Tuhan kejam dong,” ujar Ny. Djamilah yang berdasarh campuran Jawa-Mesir ini.

MENGOBATI SI LEMAH UNTUK MEMBANGUN SEKOLAH

MENGOBATI SI LEMAH UNTUK MEMBANGUN SEKOLAH

Keyakinan yang disertai bukti dengan berhasilnya para pasiennya disembuhkan, membuat pasangan ini optimis bisa mengobati segala macam jenis penyakit fisik. “Kalau sakit stress karena ditinggal pacar, wah itu lain lagi. Kami tidak sanggup. Pengobatan kami tidak pakai magic, tapi murni dengan obat ramuan tradisional.
Khusus untuk menangani HIV AIDS (sampai saat ini Nadjmuddin mengaku berhasil menyembuhkan 4 penderita AIDS, 2 dari Singapura dan 2 dari Bali), mereka tidak mengobati di rumah. Si pasien diminta datang ke Bandung dan tinggal di suatu tempat. Mereka yang akan mendatangi si pasien.

“Kalau belum kronis, paling memakan waktu tiga bulan. Kalau sudah kronis, bisa sampai 6 bulan,” ujarnya. Mengenai tarifnya, khusus untuk AIDS juga dikenakan tarif khusus. Nadjmuddin tidak menyebut angka pasti, tapi berkisar ratusan ribu. Untuk sakit-sakit seperti tumor, kanker dan lain-lain, pasien hanya diminta mengganti obat sebesar 15 ribu sampai 30 ribu.

“Sebetulnya kami tidak komersial. Tapi untuk bahan ramuan obat-obat ini, sebagian besar masih harus didatangkan langsung dari Timur Tengah. Kami mengakui memang ada sisanya, tapi dana yang terkumpul dari sini akan kami pakai membangun sekolah,” ujar Nadjmuddin, sarjana fakultas syariah Unisba, yang kemudian memperdalam hukum di Universitas Madinah ini.

Di daerah terpencil di Sukabumi, pasangan ini memang mendirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. “Kami ini memang pendidik.” Tentu saja, suatu kemuliaan belaka yang dilakukan pasangan ini. Mereka membantu orag sakit, dan mengumpulkan dana untuk mendirikan sekolah bagi masyarakat golongan ekonomi lemah. Kalau untuk biaya hidup sehari-hari, tentu H. Nadjmuddin bisa menghidupi keluarganya dengan profesinya sebagai dosen.

Obat yang diberikan pada pasien ada beberapa jenis. Ada yang berupa kapsul, cair juga oles. Untuk kapsul, pasangan ini membeli kapsul kosong dari apotik, lalu diisi dengan obat ramuannya sendiri. Konon dalam sepuluh harinya, tak kurang dari sepuluh ribu kapsul kosong dia perlukan. Suatu kali, pernah ada orang yang tertarik membeli hak paten obat ramuan tradisional buatannya. Tapi tampaknya pasangan ini masih keberatan. “Kalau dibeli, terus obat ini diproduksi besar-besaran, saya khawatir nantinya banyak orang yang membutuhkan tidak sanggup membelinya. Karenanya kami masih keberatan. Dengan begini kami bisa membantu banyak orang yang membutuhkan. Kalau memang ada pasien yang benar-benar tidak mampu, kami juga tidak memaksa harus membayar,” ujar suami-istri ini. Semesta kenyataan hidup ini adalah kesibukan berbuat menurut Allah SWT, semoga kita pun demikian adanya. Amin. yb

liputan Majalah Bintang tahun 1992 (2)

liputan Majalah Bintang tahun 1992 (2)

liputan Majalah Bintang tahun 1992

liputan Majalah Bintang tahun 1992

Komentar Seputar MENGOBATI SI LEMAH UNTUK MEMBANGUN SEKOLAH

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Kesehatan Lainnya:close