ODHA (Orang Dengan Hiv Aids) cukup rentan mengalami infeksi, terlebih saat kekebalan tubuh menurun, yaitu saat jumlah CD4-nya rendah. Hal ini yang menimbulkan terjadinya infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik, atau bagi masyarakat awam di sebut dengan penyakit penyerta, ini bisa timbul karena mikroba yang berasal dari luar maupun dalam tubuh.

Beberapa infeksi oportunistik perlu untuk dikenali sejak dini karena, Infeksi oportunistik yang berat dapat menimbulkan kematian.

I. TUBERCULOSIS (TBC)
Merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Menular melalui percikan dahak yang kemudian dihirup oleh manusia melalui udara dan kemudian menginfeksi paru-paru.infeksi ODHA

Infeksi tersebut akan membuat tubuh bereaksi. Caranya, sel makrofag, yaitu sel yang melindungi tubuh dari berbagai infeksi, akan mengelilingi kuman-kuman TBC. Dalam fungsi tersebut, sel makrofag perlu bantuan dari sel darah putih, yaitu CD4, bila kadar CD4-nya rendah, fungsi sel makrofag pun akan turun.

Kekebalan tubuh yang tidak baik ini akan membuat infeksi bertambah parah, sehingga kemudian timbul lubang pada paru-paru. Pada penderita tuberculosis (TBC), jaringan paru-paru sudah diganti dengan jaringan ikat. Hal ini yang membuat kerusakan pada paru-paru meluas. Namun, penyakit ini akan sembuh bila diobati dengan benar.

Gejala TBC:

• Batuk kronis, menetap lebih dari 3 minggu. Bila didiamkan terus-menerus, akan keluar dahak akan bercampur darah.
• Berat badan turun drastis dan tubuh makin lemah.
• Demam tinggi.
• Sering berkeringat di malam hari meski di udara dingin.
• Hilang nafsu makan.
• Sakit di punggung dan dada bagian atas

Untuk mencegah TBC, penderita hendaknya:

• Menutup mulut bila batuk.
• Membuang dahak dalam wadah yang berisi cairan karbol.
• Menghindari berada dalam ruangan bersama orang yang mengalami batuk lebih dari 3 minggu, tanpa ventilasi yang baik.

II. INFEKSI JAMUR DI MULUT

Disebut pula candidiasis mulut. Infeksi ini timbul dari jamur candida, spesies Candida albicans, tetapi jarang yang berasal dari Candida tropicalis.

Gejala yang muncul:

• Timbul warna putih di rongga mulut atau dasar mulut. Bila dibersihkan menggunakan tisu, bisa timbul perdarahan.
• Timbul kerutan putih di sudut mulut.
• Rasa terbakar pada mulut.
• Mengalami gangguan pengecap, sehingga kurang merasakan makanan yang dikunyah. Hal ini yang kemudian membuat penderita mengalami penurunan nafsu makan.
• Sulit menelan, terutama bila infeksi meluas hingga tenggorokan.

Cara mengatasi di rumah:

• Menyikat bagian dinding mulut, lidah, dan gusi dengan sikat gigi lembut minimal 3-4 kali per hari.
• Berkumur dengan sari jeruk nipis bila rongga mulut tidak terlalu nyeri atau perih. Sifat asam dari jeruk nipis dapat menghambat pertumbuhan jamur.
• Perbanyak mengkonsumsi madu murni
• Mengunyah bawang putih untuk mencegah perluasan infeksi.

III. TOKSOPLASMA

Infeksi ini disebabkan oleh protozoa atau hewan bersel satu. Sering terdapat pada tubuh kucing, yang menjadi inang definitive bagi protozoa tersebut. Protozoa ini masuk ke dalam tubuh kucing saat kucing memakan binatang lain. Seperti tikus, yang sudah mengandung parasit itu. Akibatnya, protozoa berkembang biak dalam tubuh, kemudian dikeluarkan melalui feses.

Feses yang mengandung protozoa, bisa menulari manusia, terutama dari debu yang sudah tercemar protozoa itu. Debu yang tercemar ini juga bisa hinggap pada makanan yang tidak ditutup dengan baik atau bahkan masih ada pada bahan makanan seperti daging sapi.

Itu sebabnya, makanan harus dimasak dengan baik. Daging sapi misalnya, harus dimasak hingga matang, penderita HIV + sangat tidak dianjurkan mengonsumsi makanan yang tidak dimasak dengan sempurna seperti sate atau steak.

Gejala yang muncul:

• Demam
• Sakit kepala yang berlebihan.
• Kelemahan atau kelumpuhan sebagian anggota tubuh.
• Hilang kesadaran

Pencegahan:

• Menghindari makanan yang dimasak kurang matang.
• Selalu mencuci sayur dan buah dengan air mengalir.
• Mencuci tangan sebelum makan.
• Menghindari kontak dengan kucing, lalat dan lipas. Lipas juga bisa menjadi vector atau pembawa toksoplasmosis.

IV. DIARE KRONIS

Disebabkan parasit maupun protozoa Blastocystis hominis dan Cryptosporidium. Diare kornis bila penderita mengalami diare lebih dari 2 minggu terus menerus. Gejala yang menyertai biasanya diare berlendir lebih dari 2 minggu, nafsu makan hilang dan berat badan turun secara drastis.

V. HEPATITIS C

Sebenarnya penyakit Hepatitis C (Hep C) bukan infeksi oportunis. Namun, infeksi ini cukup banyak terjadi pada penderita HIV+. Manifestasi dari hepatitis C hingga timbul sirosis hati akan muncul 30-40 tahun kemudian.

Di fase awal, gejala yang timbul seperti warna kuning pada mata pasien, pembengkakan di perut, muntah dan buang air besar berdarah, serta hilang kesadaran. Kejadian penyakit hepatitis C bisa diperberat dengan adanya HIV+, begitu juga sebaliknya.

Menghentikan kebiasaan buruk yang menyebabkan infeksi penyakit hepatitis C harus segera dilakukan. Di antaranya tidak menggunakan jarum suntuk secara bergantian, tidak berganti-ganti pasangan seksual, dan tidak mengonsumsi alkohol. Pada mereka yang mengonsumsi alkohol, akan terjadi penimbunan lemak pada hati.

Lalu Bagaimana caranya agar ODHA terhindar dari semua penyakit infeksi oportunistik di atas? Jawabannya sangat sederhana, jalanilah hidup dengan pola hidup sehat dan patuhilah terhadap semua metode pengobatan penyakit HIV yang sedang anda jalani. Semoga bermanfaat.

Komentar Seputar Infeksi Oportunistik ODHA

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Artikel Kesehatan Lainnya:close